iklanet

AGEN PENDAFTARAN KULIAH S1 DAN S2 MUDAH DAN MURAH SERTA JASA PEMBUATAN SKRIPSI TESIS DAN LAPORAN PKL SISWA HUB SIMBAH WURI http://raraswurimiswandaru.blogspot.com

TBM MEDIA CERDIK PURWOJATI CERDASKAN MASYARAKAT

Sebagai Media Baca Bertujuan Mencerdaskan Bangsa yang bermartabat.

TBM MEDIA CERDIK Bentuk Kepedulian Pemuda Pakarti dan PP Shidiqiin Wara`

Sudah menjadi misi Pemuda Pakarti dan PP Shidiqiin Wara` Selalu Cerdaskan Masyarakat.

ANDA INGIN BANTU-SILAHKAN SUMBANG BUKU KE KAMI

Kami masih banyak butuh buku baru dan bekas: fiksi atau non fiksi, majalah, jurnal, kaset dan lainnya.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 18 Februari 2015

Hasil Pelatihan Pengelolaan TBM

RINGKASAN
PELATIHAN PENGELOLAAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM)



            Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat berdampak pada sikap masyarakat terhadap pentingnya pengetahuan dan pendidikan itu sendiri. Dampak yang serius dari sikap ini adalah rendahnya indeks pengembangan sumberdaya manusia (SDM). Rendahnya indeks ini disebabkan rendahnya tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Cibinong. Salah satu desa yang ada di Cibinong adalah Desa Nangewer yang penduduknya masih banyak terdapat ibu-ibu/bapak-bapak yang buta huruf serta anak-anak usia sekolah yang tidak sekolah dikarenakan tidak punya biaya dan juga dikeluarkan dari sekolahnya karena bermasalah.
            Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat termasuk diantaranya adalah program pemberantasan Buta Aksara (atau sekarang disebut dengan Keaksaraan Fungsional) melalui kelompok belajar. Akan tetapi, tidak semua peserta yang mengikuti kegiatan di kelompok belajar tersebut melanjutkan ke program selanjutnya, yaitu lanjut ke program Paket A setara SD. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah warga belajar merasa cukup setelah bisa membaca dan menulis. Padahal warga belajar harus terus meningkatkan kemampuannya tersebut dengan mempelajari pelajaran yang tingkatannya lebih sulit lagi. Selain itu keterbatasan sarana belajar yang tersedia di kelurahan, terbatasnya sumber daya manusia yang tersedia, terbatasnya dana pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di masyarakat atau factor keengganan masyarakat memperparah keadaan yang membuat masyarakat tetap buta huruf.
            Para peserta program pemberantasan Buta Aksara berpotensi akan menjadi buta Aksara kembali jika pengetahuan dan kemampuan membaca mereka tidak terus diasah dengan membaca dan belajar. Untuk itu salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kelurahan ini. Taman Bacaan masyrakat adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan.
Membaca merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan, dengan membaca berarti proses belajar terus dilakukan.  Agar terwujud masyarakat yang gemar membaca tersebut maka sarana seperti taman bacaan masyarakat harus didirikan di seluruh pelosok tanah air, salah satunya di  Kelurahan Nangewer.
Oleh karena itu, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta, mengadakan sebuah kegiatan pelatihan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat di Kelurahan Nangewer Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor, dalam bentuk pemberian buku dan melatih pembuatan catalog, pembuatan buku induk dan peminjaman, pembuatan rak buku dan melatih membuat proposal untuk menambah pengadaan bahan IPTEK untuk di Taman Bacaan Masyarakat Nangewer.
Kegiatan ini menggunakan metode pelatihan dan tknik demonstrasi yaitu penjelasan yang diikuti dengan praktek langsung. Teknik ini menggunakan alat bantu berupa jenis-jenis buku, kartu catalog, kartu buku, kartu anggota dan kartu-kartu lain yang diperlukan dalam pengelolaan TBM serta contoh pembuatan proposal pengadaan bahan IPTEK untuk Taman Bacaan Masyarakat di Desa Nangewer. Teknik dan alat ini akan membantu untuk mempermudah memahami dan menguasai praktek penyelenggaraan taman bacaan masyarakat di Kelurahan Nangewer.
Adapun hasil dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan taman bacaan masyarakat di masa yang akan datang, menambah pengetahuan, dan keterampilan para pengurus taman bacaan masyarakat di dalam menyelenggarakan dan mengelola TBM serta dapat meningkatkan minat membaca warga masyarakat di Kelurahan Nangewer dan juga menambah koleksi buku yang dimiliki oleh TBM yang ada di kelurahan ini.
Kesimpulan kegiatan ini adalah kegiatan pelatihan yang diadakan sangat penting untuk para pengurus TBM yang ada di Kelurahan Nangewer di dalam mengelola dan mengembangkan TBM di masa yang akan datang agar TBM Nangewer dapat berkembang lebih baik lagi.




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Analisis Situasi
Meningkatkan kualitas masyarakat baik dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan merupakan gagaran jurusan Pendidikan Luar Sekolah secara konseptor maupun praktik langsung. Dalam hal ini perlu adanya pengidentifikasian secara dini demi menemukan potensi yang dapat diangkat untuk meningkatkan kualitas masyarakat tersebut dan sudah barang tentu diperlukan lahan pengidentifikasian.
Lahan garapan kali ini adalah Keluruhan Nangewer Kecamatan Cibinong Kabupaten  Bogor. Pekerjaan rata-rata masyarakat Nangewer yaitu sebagai seorang petani dan juga buruh tani. Dari pekerjaannya tersebut mereka hanya bisa menghasilkan/mendapatkan upah yang setiap harinya tidak terlalu besar. Upah yang mereka dapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Oleh sebab itu, di kelurahan ini banyak sekali ditemukan masyarakat yang tidak bisa membaca. Anak-anak mereka pun yang seharusnya sekolah, banyak sekali yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya yang mereka miliki. Akhirnya karena masih terdapatnya masyarakat  yang buta huruf, maka kelurahan ini akan sulit berkembang yang bisa bersaing dengan kelurahan lainnya yang sudah berkembang dan maju.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat termasuk diantaranya adalah program pemberantasan Buta Aksara (atau sekarang disebut dengan Keaksaraan Fungsional) melalui kelompok belajar. Akan tetapi, tidak semua peserta yang mengikuti kegiatan di kelompok belajar tersebut melanjutkan ke program selanjutnya, yaitu lanjut ke program Paket A setara SD. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah warga belajar merasa cukup setelah bisa membaca dan menulis. Padahal warga belajar harus terus meningkatkan kemampuannya tersebut dengan mempelajari pelajaran yang tingkatannya lebih sulit lagi. Selain itu keterbatasan sarana belajar yang tersedia di kelurahan, terbatasnya sumber daya manusia yang tersedia, terbatasnya dana pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di masyarakat atau faktor keengganan masyarakat memperparah keadaan yang membuat masyarakat tetap buta huruf.
Para peserta program pemberantasan Buta Aksara berpotensi akan menjadi buta Aksara kembali jika pengetahuan dan kemampuan membaca mereka tidak terus diasah dengan membaca dan belajar. Untuk itu salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kelurahan ini. Taman Bacaan masyrakat adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk memperoleh informasi.
Tercatat sekitar 5.000 taman bacaan masyarakat (TBM) di seluruh Indonesia berpotensi mengembangkan program literasi lokal dari komunitas local. Selama ini, sejumlah fasilitas membaca, seperti perpustakaan, terasa menakutkan karena terkesan hanya orang sekolahan yang masuk ke dalam. TBM bisa berada di garda depan pemberantasan buta aksara dan menumbuhkan minat baca karena mudah diakses masyarakat, tidak eksklusif, dan membumi. Pada TBM, warga setempat dapat mengakses berbagai referensi, sekaligus menjadi wadah bagi komunitas untuk beraktivitas sesuai karakter dan potensi daerah tersebut.
Melihat kenyataan yang ada akan pentingnya Taman Bacaan Masyarakat demi meningkatkan kualitas masyarakat dalam segi pendidikan maka perlu diadakan suatu kegiatan yang memberikan informasi secara utuh mengenai pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat yang baik demi terwujudnya TBM yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Oleh karena itu kami mempunyai sebuah gagasan untuk melakukan sebuah pelatihan kepada masyarakat khususnya kaum muda mengenai pengelolaan taman bacaan masyarakat yang baik.
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta selama beberapa tahun telah menjadikan beberapa desa/kelurahan yang sulit berkembang karena mempunyai banyak keterbatasan sebagai Lab Site dan lokasi pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswanya. Melalui PPL, mahasiswa PLS dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dengan cara membelajarkan masyarakat tersebut. Mahasiswa kemudian membentuk berbagai macam kelompok belajar untuk kemudian melakukan suatu proses pembelajaran bagi masyarakat, khususnya mereka yang tidak dapat membaca/buta huruf.
Supaya masyarakat yang ikut dalam proses pembelajaran tersebut terus belajar membaca, maka keberadaan TBM sangat diperlukan sekali. Oleh karena itu, supaya dalam pengelolaan TBM tersebut dapat dikelola dengan baik, maka diperlukan suatu pelatihan dan juga pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menciptakan suatu TBM yang bagus. Mahasiswa PLS hanya mampu membantu masyarakat tersebut dengan cara mengadakan sebuah pelatihan, sedangkan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana TBM mahasiswa PLS tidak memiliki kemampuan yang maksimal. Maka dari itu, untuk penyelengaaraan dan bimbingan diperlukan sejumlah dana dan upaya, salah satunya yaitu diperlukan suatu kegiatan kerjasama yang baik dari Jurusan PLS dan suatu lembaga yang dapat menjadi penyandang dana bagi kegiatan penataan TBM di Kelurahan Nangewer, yaitu dengan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta.
B.     Identifikasi dan Perumusan Masalah
Dari analisis situasi diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana menumbuhkan minat baca masyarakat sehingga dapat terwujud masyarakat yang gemar membaca?
2.      Bagaimana menyediakan fasilitas/sarana dan prasarana taman bacaan masyarakat bagi masyarakat yang tidak menyediakan bahan bacaannya sendiri?
3.      Bagaimana menyelenggarakan suatu wadah tempat mambaca bagi masyarakat yang dapat diakses dan dikelola oleh masyarakat sekitarnya sendiri?
Dari hasil identifikasi masalah diatas, dapat dirumuskan perumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana menyelenggarakan Taman Bacaan Masyarakat yang dapat terus memfasilitasi serta menumbuhkan minat baca masyarakat di Kelurahan Nangewer?
C.    Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi warga kelurahan Nangewer khususnya warga belajar keaksaraan agar terus dapat mengasah kemampuan membacanya dengan menyelenggaralan dan mengelola Taman Bacaan Masyarakat yang baik dan benar. Tujuan lainnya yaitu untuk membantu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah sehingga mereka mempunyai kompetensi yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan untuk diberdayakan.
D.    Manfaat Kegiatan
Kegiatan ini akan memberikan manfaat kepada masyarakat Kelurahan Nangewer dalam hal:
1.      Membentuk aspek sikap masyarakat terhadap pentingnya pendidikan;
2.      Memiliki pengetahuan tentang penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat;
3.      Mengurangi resiko aksarawan baru menjadi buta aksara kembali;
4.      Mewujudkan masyarakat yang gemar membaca dan belajar.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Apabila Negara Indonesia ingin menjadi Negara yang maju dan dapat bersaing dengan Negara-negara yang sudah maju seperti Singapura, Jepang, Amerika, dll. Maka Negara ini harus mempunyai masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sangat bagus dan berkualitas. Supaya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang bagus dan berkualitas, maka setiap warga Negara harus mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 dinyatakan “……bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”[1]. Bunyi undang-undang tersebut telah mengisyaratkan bahwa Negara sangat mendukung masyarakatnya dalam hal pendidikan, tinggal bagaimana para pemimpin Negara ini mendukung gerakan pendidikan yang ada.
Pasal 4 Undang-Undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pengetahuan dapat dimiliki dengan cara membaca[2]. Melalui kegiatan membaca maka masyarakat dapat belajar dan memperluas wawasan, memperoleh berbagai informasi yang bermanfaat, dan dapat menghibur diri. Salah satu cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan menggalakkan budaya membaca. Tujuan dari kegiatan ini adalah mewujudkan masyarakat gemar belajar (learning society), salah satu indikatornya terlihat dari masyarakat yang gemar membaca (reading society).
Salah satu intrumen untuk membangkitkan budaya gemar belajar melalui masyarakat gemar membaca adalah dengan tersedianya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM itu sendiri adalah suatu lembaga/tempat yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan sebagai tempat penyelenggaraan program pembinaan kemampuan membaca dan belajar masyarakat[3]. Diselenggarakannya taman bacaan selain untuk mewujudkan masyarakat gemar membaca, juga dimaksudkan untuk mendukung pendidikan keaksaraan[4]. Keaksaraan menurut H.S Bhola dikatakan sebagai instrumental yang terkait dengan peradaban manusia berupa kemampuan baca-tulis sebagai induk bahasa yang digunakan oleh setiap bangsa di dunia. Kemampuan keaksaraan juga sangat berhubungan dengan pengembangan budaya, termasuk ikteraksi semua factor yang menunjang keaksaraan itu sendiri[5].
Para warga belajar yang telah menyelesaikan pendidikan di kelompok belajar keaksaraan (aksarawan baru) perlu dibina sehingga tidak menjadi buta aksara kembali akibat ketiadaan sarana pendukung pemelihara kemampuan membaca. Disamping itu dalam keaksaraan ada yang mempromosikan keaksaraan sebagai “keaksaraan kritis” yaitu masyarakat penyandang buta aksara disadarkan untuk mengerti dan memahami isu-isu yang sedang berkembang dalam lingkungannya dan memberdayakan mereka untuk dapat mewujudkan perubahan, serta membebaskan mereka dari penindasan baik karena factor ekonomi, social, budaya politik atau factor lainnya. Keaksaraan kritis bertujuan untuk membaca dunia disekelilingnya dan mengubahnya sesuai dengan cara pandang mereka dan masyarakat sekitarnya[6].
Program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) telah dimulai sejak tahun 1992/1993. Kehadiran TBM merupakan pembaharuan dari Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh Pendidikan Masyarakat pada tahun limapuluhan. Program TBM ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karena itu keberaadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat. Untuk itu kemampuan, keterampilan dan kinerja pengelola harus ditingkatkan sehingga dapat mengelola TBM sebagaimana mestinya.
TBM adalah sebuah lembaga yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai tempat penyelengaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar, sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat. Pengelola TBM adalah mereka yang memiliki dedikasi dan kemampuan teknis dalam mengelola dan melaksanakan layanan kepustakaan kepada masyarakat. Sedangkan bahan pustaka adalah semua jenis bahan bacaan dalam berbagai bentuk media.
Sejak tiga tahun terakhir, Depdiknas gencar mendorong tumbuhnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Ini merupakan salah satu kegiatan dari program peningkatan budaya baca dan pembinaan perpustakaan yang digalakkan oleh Direktorat Dikmas, Ditjen Pendidiikan Non Formal dan Informal sebelumnya Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas. Dalam jangka panjang, PNFI ingin menciptakan masyarakat pembelajar melalui peningkatan budaya baca. Untuk mencapai keinginan tersebut, diperlukan adanya kesediaan masyarakat untuk membentuk taman bacaan. Dari sini pada akhirnya berkembang menjadi perpustakaan. Depdiknas berupaya menyiapkan bahan bacaan yang bisa diakses oleh masyarakat sesuai kebutuhan di daerah masing-masing.
Upaya mendorong terbentuknya TBM di masyarakat tampaknya sudah menunjukkan peningkatan. Tahun 1992 hanya ada sekitar 190 TBM di Indonesia. Tapi sejak tiga tahun terakhir, jumlah ini meningkat jauh lebih besar. Sekarang ada sekitar 5.400 TBM di Indonesia. Tahun 2009, direncanakan setiap kecamatan telah memiliki TBM. Bahkan desa-desa pun dibina agar memiliki taman bacaan.
Selain taman bacaan, saat bersamaan dikembangkan juga mobile TBM. Ini semacam perpustakaan keliling menggunakan kendaraan mobil yang dimodifikasi sebagai taman bacaan. Kendaraan ini ditempatkan di daerah-daerah yang membutuhkan, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk melayani masyarakat. Mobile TBM dioperasikan oleh SKB yang ada di daerah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat. Saat ini sudah ada 127 mobile TBM di 127 kabupaten. Tahun depan direncanakan 143 mobile TBM.
Tujuan dari didirikannya TBM atau TPR adalah sebagai berikut; 1. Membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipta masyarakat yang cerdas. 2. Menjadi sebab wadah kegiatan belajar masyarakat. 3. Sarana dalam mendukung pemberantasan buta aksara (PBA) termasuk meningkatkan kemampuan aksarawan baru agar tidak menjadi buta aksara kembali[7].
Fungsi dari Taman Bacaan Masyarakat adalah: 1. Sarana Pembelajaran bagi masyarakat. 2. Sarana hiburan (rekreasi) dan pemanfaatan waktu secara efektif dengan memanfaatkan bahan bacaan dan sumber informasi lain sehingga warga masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi baru guna meningkatkan kehidupan mereka. 3. Sarana informasi berupa buku dan bahan bacaan lain yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar dan masyarakat setempat[8]. Dari fungsi ini dapat dilihat bahwa secara fisik maupun psikologis keberadaan TBM sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama oleh masyarakat yang tidak mampu menyediakan bahan bacaan sendiri.
Manfaat penyelenggaraan TBM bagi masyarakat adalah: 1. Menumbuhkan minat, kecintaan dan kegemaran membaca. 2. Memperkaya pengalaman bekajar dan pengetahuan bagia masyarakat. 3. Menumbuhkan kagiatan belajar mandiri. 4. Membantu pengembangan kecakapan membaca. 5. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 6. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat[9].
Untuk memelihara keberlangsungan penyelenggaraan TBM diperlukan berbagai alternatif dalam pengelolaannya, sehingga warga belajar dapat memanfaatkan TBM secara maksimal. Maka dari itu supaya warga belajar dapat memanfaatkan dan mengelola TBM secara maksimal perlu di lakukan sebuah pelatihan.
Pelatihan menurut Edwin B. Flippo yang dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan adalah suatu  usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian seorang tenaga kerja (karyawan) untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.[10] Sedang  menurut Andrew F Sikula yang dikutip oleh Malayu, pelatihan diartikan sebagai “proses pendidikan jangka pendek dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga kerja belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan keahlian untuk tujuan  tertentu.”[11]
Dengan demikian pelatihan lebih dimaksudkan  merupakan peningkatan ketrampilan seseorang untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan tertentu dengan waktu yang relatif singkat, terorganisir dan sistematis untuk merubah kemampuan seseorang. Diharapkan setelah para pengelola TBM mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, para pengelola tersebut dapat mengelola TBM dengan baik dan benar. Sehingga nantinya tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa membaca, kerena sudah tercipta masyarakat yang gemar membaca dan belajar.



BAB III
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN
A.    Kerangka Pemecahan Masalah
Melalui kegiatan program pengalaman lapangan mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah di Kecamatan Cibinong Khususnya di Kelurahan Nangewer akan dibentuk kelompok belajar keaksaraan bagi warga yang tidak bisa membaca/buta aksara. Pada kelompok-kelompok belajar yang dibentuk ini, nantinya akan dibimbing dan dibina untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Diharapkan melalui kagiatan ini masyarakat yang buta aksara dapat dikurangi jumlahnya. Dengan demikian, pengetahuan, keterampilan, dan wawasan berfikir masyarakat dapat ditingkatkan. Kelompok-kelompok aksarawan baru ini akan dapat terus meningkatkan kemampuannya dalam membaca dan meningkatkan pengetahuannya melalui bacaan-bacaan yang tersedia di Taman Bacaan Masyarakat. Untuk itu TBM harus menyediakan buku-buku bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat Nangewer.
TBM agar dapat terus berlangsung kedepannya, maka harus dikelola dengan baik, untuk itu perlu diadakan pelatihan pengelolaan TBM . kegiatan pelatihan penyelenggaraan dan pengelolaan TBM dapat dilakukan oleh Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta sebagai pihak yang menjadikan Nangewer sebagai lab site sarana pembelajaran dan praktek pengalaman lapangan bagi mahasiswanya. Dosen dan mahasiswa akan bekerjasama di dalam menyelenggarakan pelatihan ini, sehingga pengabdian kepada masyarakat pun dapat dilakukan.
B.     Realisasi Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah yang dapat diambil adalah dengan menyelenggarakan pelatihan penyelenggaraan dan pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat di Kelurahan Nangewer Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, kepada para Pengurus TBM. Adapaun bentuknya adalah pemberian buku dan melatih pembuatan buku katalogm buku induk dan peminjaman, pembuatan rak buku dan melatih membuat proposal untuk pengadaan IPTEK untuk TBM Nangewer. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 bertempat di TBM Nangewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
C.    Khalayak Sasaran
Adapun khalayak sasaran dalam kegiatan pelatihan ini adalah para guru, pemuda/i, serta warga masyarakat yang termasuk aktif sebagai tutor dalam kegiatan pembelajaran keaksaraan. Melalui mereka, penyelenggaraan TBM diharapkan dapat dilakukan dan dapat melayani seluruh masyarakat. Terutama warga belajar keaksaraan. Pemilihan guru, pemuda, dan warga masyarakat yang aktif dalam kegiatan keaksaraan dianggap tepat sebab mereka dianggap merupakan orang-orang yang sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan di dalam menyelenggarakan dan mengelola Taman Bacaan Masyarakat.
D.    Metode Kegiatan
Metode kegiatan yang digunakan dalam pelatihan ini adalah tknik demonstrasi yang diikuti dengan penjelasan dan praktek langsung. Teknik ini menggunakan alat bantu berupa jenis-jenis buku, kartu katalog, kartu buku, kartu anggota, dan kartu-kartu lain yang diperlukan dalam pengelolaan TBM, taknik dan alat ini akan membantu untuk mempermudah memahami dan menguasai materi yang dipraktekkan dalam penyelenggaraan TBM.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan Pelatihan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat di Kelurahan Nangewer Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang dilakukan pada bulan Agustus 2011 berjalan dengan sebagaimana yang diharapkan dan telah ditentukan oleh panitia pelaksana. Pada kegiatan  pelatihan ini dibuka oleh Anggota Pelaksana Drs. Urip Wahyudin, M. Si yang mewakili Daddy Darmawan yang berhalangan hadir.
Kegiatan pembelajaran dan pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat di Kelurahan Nangewer yaitu dalam bentuk pemberian buku dan melatih peserta membuat kartu katalog, pembuatan buku induk dan peminjaman, pembuatan rak buku dan melatih membuat proposal untuk menambah pengadaan bahan IPTEK untuk di TBM. Dengan begitu, maka TBM dapat dijadikan tempat untuk kegiatan pembelajaran bagi masyarakat.
 Dalam kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh peserta pelatihan yang cukup banyak. Dimana peserta yang datang yaitu berjumlah 41 orang, dengan rata peserta masih usia sekolah, yakni SMP, SMA, bahkan terdapat beberapa orang yang masih duduk disekolah dasar. banyaknya peserta pelatihan yang masih muda, diharapkan mereka nantinya dapat mengelola TBM dengan baik, dikarenakan mereka masih mempunyai semangat untuk belajar yang sangat tinggi.
Antusiasme yang tinggi diperlihatkan oleh para peserta pelatihan yang kebanyakan adalah anak-anak yang masih muda. Mereka memperhatikan dengan serius pada saat tutor menjelaskan mengenai pengelolaan TBM. Bahkan banyak diantara mereka yang terus bertanya kepada tutor yang menjelaskan materi, dikarenakan rasa ingin tahu mereka yang sangat tinggi. Tutor pun akhirnya menjadi sangat bersemangat menjelaskan dan menjawab pertanyaan dari para peserta, karena antusiasme yang tinggi diperlihatkan oleh para peserta pelatihan.
Hasil dari kegiatan ini selain memberikan pelatihan pengelolaan taman bacaan masyarakat kepada anak-anak yang masih muda, pada kegiatan ini juga dibuatkan sebuah tempat taman bacaan masyarakat yang baru. Di Kelurahan ini ternyata belum terdapat satu buahpun TBM yang berdiri. Sehingga TBM yang baru dibuat ini menjadi TBM perintis bagi munculnya TBM-TBM yang lain yang bermunculan di Kelurahan Nangewer.
TBM sederhana yang dibuat oleh tim pelaksana ini berisi berbagai macam buku-buku bacaan. Diantaranya ada, komik, resep masakan, buku cerita, buku pelajaran, dll. Banyaknya jenis buku yang yang disimpan di TBM ini diharapkan dapat menarik minat dari para warga sekitar TBM untuk mau membaca. Apabila sudah banyak warga masyarakat yang mau untuk membaca di TBM ini, maka akan tercipta suatu masyarakat yang gemar/hobi membaca.
Pada akhir kegiatan pelatihan, diadakan evaluasi kepada para peserta pelatihan dengan menyampaikan pertanyaan apakah materi dan praktek yang diberikan oleh tim pelaksana dapat dipahami sepenuhnya. Semua peserta pelatihan TBM menganggap kegiatan seperti ini sangat diperlukan karena supaya terwujud suatu masyarakat yang gemar membaca. Peserta pelatihan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim dan jurusan PLS, dengan diadakannya kegiatan semacam ini, maka terwujud suatu kegiatan pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi pengurus TBM maupun masyarakat. Tidak lupa mereka berharap supaya kegiatan pelatihan seperti ini rutin diadakan supaya lebih banyak lagi TBM yang bermunculan di Kelurahan Nangewer.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari terlaksananya kegiatan pelatihan penyelenggaraan dan pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat di Kelurahan Nangewer Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor adalah:
1.      Dimilikinya pengetahuan tentang cara penyelenggaraan dan pengelolaan TBM oleh para pengurus yang kebanyakan adalah para generasi muda.
2.      Dimilikinya keterampilan baru oleh pengurus TBM untuk membuat dan merancang sebuah proposal untuk pengadaan bahan IPTEK untuk TBM di Kelurahan Nangewer.
3.      Menambah koleksi buku di TBM Nangewer.

B.     Saran
Saran yang diajukan dari hasil kegiatan pelatihan penyelenggaraan dan pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat DI Kelurahan Nangewer  Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor ini adalah: Pelatihan Pengelolaan TBM dalam bentuk pemberian buku dan melatih pembuatan kartu katalogm pembuatan buku induk dan peminjaman, pembuatan rak buku dan melatih membuat proposal pengadaan bahan IPTEK untuk TBM di Kelurahan Nangewer mendapatkan tindak lanjut dari pihak UNJ, Dinas Pendidikan dalam bentuk dana pengembangan dan pembinaan guna untuk perjalanan TBM di masa mendatang.
Selain itu, kepada pihak Kelurahan agar terus menggalakkan gemar membaca kepada masyarakat Kelurahan Nangewer yang mayoritas belum bisa membaca. Cara yang bisa dilakukan yaitu, pertama pihak kelurahan dapat memasang Spanduk/Pamplet di tempat-tempat yang strategis, sehingga warga dapat melihat apa yang sedang digalakkan oleh pihak kelurahan. Kedua, pihak kelurahan bisa menyuruh ketua RW/RT untuk datang ketiap rumah warganya untuk terus menyuarakan gemar membaca di Kelurahan Nangewer. Ketiga, pihak kelurahan bisa membuat waktu seminggu sekali untuk berkumpul di tempat Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Kelurahan bersama-sama masyarakat. Supaya masyarakat mau ikut membaca buku-buku yang ada di TBM tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Bhola, H.S.A (1994). Sources Book For Literacy Work. Perpectives From The Grass Roots. Jessisa Kingsley Publisher/UNESCO Publishing, London.
Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang No. 2/1989, Pasal 4. Sistem Pendidikan Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Naskah Akademik Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu.
Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat. Jakarta: Depdiknas, 20005.
Guahira. or. id. Minat Baca di Indonesia Buruk. 21 Oktober 2007.
Hakim, Heri Abi Burachman. 2009. Perpustakaan Sekolah Sarana Peningkatan Minat Baca.www.heri_abi.staff.ugm.ac.id.
Hasibuan. S.P. MalayuManagement Sumber Daya ManusiaJakarta: Bumi Aksara, 1996.
Kusnadi, dkk. Pendidikan Keaksaraaan, Filosofi, Strategi, Implementasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005.
Lilawati. 1988. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orang Tua dan Inteligensi dengan Minat Membaca pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Fakultas Psikologi UniversitasGadjah Mada, Yogyakarta.
Mulyani, A.N. 1981. Pembinaan Minat Baca dan Promosi Perpustakaan. Berita Perpustakaan Sekolah, I, 24 – 29.
Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Nonformal, Jakarta.
Sumadi. 1987. Hubungan Minat Baca dan Bakat Bahasa dengan Prestasi Membaca Pemahaman Siswa SMA Kodya Malang. Thesis. S2 PPs IKIP Malang, Malang.
Suryabrata, Sumadi. 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Andi Offset, Yogyakarta.
Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 31 Ayat 1.

[1] Undang-Undang Dasar RI, Pasal 31 Ayat 1
[2] Undang-Undang No. 2/1989, Pasal 4, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depatemen Pendidikan Nasional
[3] Kusnadi, dkk. Pendidikan Keaksaraan, Filosofi, Stategi, Implementasi, Depatemen Pendidikan Nasional, Jakarta: 2005, hal. 41.
[4] Pedoman Penyusunan dan Penilaiaan Proposal Subsidi Taman Bacaan Masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: 2005, hal. 1.
[5] Bhola, H.S.A. Sources Book For Literacy Work. Perspectives From The Grass Roots. Jessisa Kingsley Publisher/UNESCO Publishing, London:1994. Hal. 21
[6] Idem, hal. 33
[7] Pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: 2005. Hal. 1.
[8] Idem, hal. 2
[9] Idem, hal. 2
[10] Hasibuan. S.P. Malayu, Management Sumber Daya Manusia, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hlm. 70.
[11]  Ibid. Hal 70.

Rabu, 11 Februari 2015

Suasana Taman Bacaan Masyarakat Harus Menyenangkan

Jakarta, Kemendikbud --- Salah satu program Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud adalah Program Pendidikan Masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dalam menjalankan program ini antara lain adalah Pengembangan Budaya Baca Masyarakat, salah satunya melalui Program Penyediaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Program Pengembangan Budaya Baca terdiri atas empat jenis program, yaitu Sarana Peningkatan Mutu TBM Berbasis Elektronik, TBM Ruang Publik/@Mall, TBM Rintisan dan TBM Penguatan.
Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Wartanto menegaskan, Kemendikbud terus mengembangkan program TBM. Pada tahun 2014, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat memberikan bantuan rintisan TBM sebesar masing-masing Rp30 juta untuk 250 lembaga. “Selain itu kami juga memberikan bantuan TBM Penguatan, dan mendirikan TBM di ruang publik, seperti di rumah sakit, dan terminal,” ucapnya.
Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pun harus mampu menciptakan suasana baca yang mengasyikkan dan menyenangkan. Ketua Forum TBM Provinsi DKI Jakarta, Yopie Dahlan, menilai suasana baca yang menyenangkan di TBM mampu meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung, sekaligus merangsang minat baca masyarakat.
“Minat baca remaja usia 15-25 tahun di Indonesia masih rendah. Butuh upaya bersama untuk terus memopulerkan TBM,” ujar Yopie di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pria yang mengelola TBM Bhumi Tridharma Jakarta tersebut menyarankan agar dinding TBM tidak dibuat bersekat-sekat. Ruangan pun agar dibuat terang dan transparan agar pengunjung betah membaca berlama-lama. “Suasana TBM harus mengasyikkan bagi warga belajar yang datang,” ucapnya.
Ia juga mengajak para pengelola TBM agar tidak menggantungkan diri pada bantuan pemerintah. Menurutnya, pengelola justru harus kreatif membangun jejaring dengan perusahaan swasta, lembaga sosial masyarakat, dan lainnya.
“Banyak perusahaan yang menggelar program CSR untuk meningkatkan budaya baca, peluang ini harus mampu diraih oleh rekan-rekan pengelola TBM,” ujarnya. Pria berusia 63 tersebut juga berharap agar pengelola TBM lebih kreatif mengajak masyarakat membaca.
TBM Bhumi Tridharma, misalnya, berupaya meramaikan lembaga tersebut dengan berbagai kegiatan. Yopie menuturkan, pada awal Januari 2015 TBM yang dikelolanya akan menyelenggarakan lomba mewarnai, menggambar, menulis dan membaca puisi. Selain itu, kegiatan tersebut akan disemarakkan dengan lomba permainan tradisional, antara lain congklak, lompat karet, galaksin, egrang, dan balap karung. (Yohan Rubiantoro/Desliana Maulipaksi) http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/3683

Rabu, 04 Februari 2015

Proposal Pengusulan Program Taman Bacaan Masyarakat-TBM

PROPOSAL
PENGUSULAN PROGRAM TAMAN BACA MASYARAKAT (TBM)


A. DASAR PEMIKIRAN

Membangun sebuah komunitas masyarakat yang kuat tak akan dapat lepas dari kebiasaan komunitas itu dalam berusaha membekali diri dengan ilmu pengetahunan. Terlalu naïf jika semua hal yang bersinggungan dengan peningkatan sumber daya manusia hanya dititikberatkan pada kegiatan pembelajaran formal belaka. Pemerintah harus sudah mulai dengan kesungguhan untuk memberikan solusi tepat agar masyarakat dapat mencari ilmu diluar pendidikan formal. Salah satunya adalah Perpustakaan.
Membangun sebuah perpustakaan tentunya bukan merupakan hal yang mudah jika kita meninjau dari segi pendanaan. Apalagi, tantangan tersebut diperparah dengan kesadaran gemar membaca masyarakat yang basih rendah. Hal ini terbukti dengan Human Development Index Indonesia yang kurang memuaskan.
Secara nasional, dibeberapa wilayah propinsi yang maju, konsep perpustakaan sudah mulai bergeser dari perpustakaan konvesional ke perpustakaan modern yang menumpukan inovasinya pada digitalisasi perpustakaan. Bahkan perkemmbangan ini telah mencapai wilayah-wilayah pedesaan. Hal ini tentunya merupakan upaya cerdas pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan citat-cita pembangunan SDM masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan berimbang. 
Perpustakaan memberikan sumbangsih besar dan signifikan dalam merangsang pencapaian tujuan SDM tidak hanya di wilayah perkotaan melaikan juga di pedesaan. Manfaat perpustakaan diyakini akan menjadi sarana transformatif bagi masyarakat desa apabila strategi yang penuh dengan stimulasi edukatif perpustakaan, masyarakat yang giat membaca bebar-benar akan bergerak menuju pembangunan SDM yang handal di era otonomi daerah. Dengan demikian, peran serta masyarakat dalam membangun, menuntut, mencerdaskan bangsa, yang tak terpisahkan dengan menggapai cita-cita masa depan SDM yang berkualitas, berfikir kritis dan mandiri. 
Salah satu pilar pemerintahan yang dapat berperan dalam merealisasikan tujuan di atas adalah pemerintah. Sebagaimana amanah UUD 1945 pasal 31, 32 setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan. Oleh karenanya, pemerintah wajib membiayaai wajib memenuhi amanah ini. Dengan demikian untuk memberikan kesempatan belajar pemerintah wajib menyediakan perpustakaan bagi masyarakat. Mengingat pula bahwa dewasa ini masalah pendidikan menempati posisi yang amat penting. Karenanya, penyelengarakan dan atau pembangunan bidang pendidikan rasanya bukan hal yang perlu ditawar-tawar lagi.
Kehadiran perpustakaan melalui di wilayah desa merupakan wujud pendekatan pembangunan dari akar bangsa yaitu desa atau tepatnya masyarakat desa. Sebagaiman yang telah dan masih sedang dijalankan oleh pemerintah melalui program Taman Baca Masyarakat (TBM), pendekatan ini dinilai strategis, sebab melalui kehadiran perpustakaan desa, stimulasi terhadap niat baca masyarakat pedesaan membentuk sikap dan kesadaran bahwa membaca adalah kebutuhan hidup. Selain itu, keberadaan perpustakaan di wilayah pedesaan juga merupakan upaya memasyarakatkan membaca atau membudayakan membaca menjadi budaya masyarakat desa. Dengan begitu, masyarakat desa tidak akan terus termarjinalisasi dalam proses peningkatan SDM serta dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. 
Didasarkan pada untaian pemikiran di atas, maka perlu diwujudkan keberadaan perpustakaan di pedesaan. Melalui keberadaan perpustakaan di desa, dukungan pembangunan manusia dan masyarakat desa yang berkualitas dengan menyediakan sumber-sumber buku yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan desa akan benar-benar memberikan bukti terselenggarannya pembangunan bukan hanya dari segi material malainkan juga pada segi manusianya. Sebab, perpustakaan adalah jantung, urat nadi di pembangunan SDM.

B. LANDASAN 

Adapun landasan pembuatan proposal usualan ini antara lain:
1. Hasil keputusan program kelompok mahasiswa Kegiatan Belajar dan Pendampingan Masyarakat/KBPM Desa Binaus Tentang Pengajuan Proposal Usulankan Pengadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) kepada Sub Bidang Pendidikan Kemasyarakat atau Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Banyumas.
2. Kerja sama kelompok mahasiswa KBPM Desa Binaus dengan Pemerintah Desa Binaus untuk pengupayaan pengadaan Taman Baca Masyarakat.
3. Hasil koordinasi perwakilan kelompok mahasiswa KBPM desa Binaus dengan Kepala Sub Bidang Pendidikan Kemasyarakatan atau Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas.

C. PROGRAM 
Nama program yang diusulkan ini ialah “Pengadaan Taman Baca Masyarakat”

D. TUJUAN 
Adapun tujuan pengadaan Taman Baca Masyarakat ini antara lain: 
1. Membangun Sumber Daya Manusia masyarakat pedesaan.
2. Membudayakan dan memasyarakatkan membaca dikalangan masyarakat desa.
3. Membekali masyarakat desa dengan sumber-sumber informasi mutakhir yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan wilayah pedesaan.
4. Mengupayakan pemerataan dan peningkatan kualitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa dalam berinovasi dan berkreasi. 


E. MANFAAT
Adapun tujuan pengadaan Taman Baca Masyarakat ini antara lain:
1. Masyarakat desa memperoleh keluasan akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui sumber-sumber bacaan yang tersedia di TBM.
2. Masyarakat desa memiliki kebiasaan terpola hidupnya dengan membaca.
3. Meningkatnya pengetahuan, kecerdasan, keritisan dan kemandirian masyarakat desa. 
4. Meningkatnya memiliki daya inovasi dan kreatifitas pengembangan keterampilan (live skill) yang dapat menolong mereka hidup secara produktif.
5. Masyarakat dan pemerintah mengalami sinergitas dalam penyelenggaraan pembangunan desa di segala bidang. 


F. SASARAN
Adapun sasaran dari program ini ialah seluruh lapisan masyarakat desa Binaus, terkhusunya bagi kategori anak usia sekolah dan pemuda desa. 


G. PENGORGANISASIAN
Pengorganisasia program Taman Baca Masyarakakat ini, memberikan gambaran rinci tentang hal-hal yang dipertimbangkan perlu diatur dalam operasionalisasi TBM sebagai perpustakaan yang diperuntukan bagi masyarakat guna membangun SDM-nya. Adapun hal-hal yang diatur dalam pengorganisasian antara lain:
1. Pengelola: 
Pada prinsipnya pengelola TBM adalah mereka yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus keseluruhan pengelolaan atau operasi TBM. Keberadaan mereka sebagai pengelola lebih bersifat relawan yang siap mengawalan pembangunan SDM masyarakat di wilayah pedesaan. Para pengelola ini diambil dari para pemuda dan pemudi desa yang menyatakan komitmennya untuk melaksanakan tugas pembangunan SDM di desa mereka yang terbentuk dalam “Relawan Muda Bangun Desa”. Agar pengelolaan dapat berlajalan secara baik, maka pengelola TBM dibentuk dalam struktur pengelola sehingga dapat melaksanakan tugas mereka secara efektif. Adapun struktur pengelola TBM, sebagai berikut:


Ketua : Bertugas mengordinasi keseluruhan operasi dan upaya pengembangan TBM
Sektertaris : Bertugas melakukan inventarisasi inventaris TBM
Wakil Secretaris : Bertugas dalam melukan katalogisasi dan klasifikasi 
Bendahara : Bertugas dalam mengelola keuangan yang berkaitan dengan kepentingan TBM 
Koordinator Umum
dan anggota-anggota : 
Mengelola peminjaman buku dan pengembalian buku dan keperluan teknis lainnya 

2. Sumber Daya Manusia:
1. Pengadaan (Pemesanan, Penerimaan)
2. Pengolahan (Katalogisasi, Klasifikasi)
3. Pelayanan (Peminjaman, Referensi)
4. Kebersihan (Perapihan)
3. Sistem , Jam dan Jenis Pelayanan :
Sistem pelayanan menerapkan sistem terbuka, dimana setiap pengguna dapat memilih bahan pustakan yang dibaca di tempat atau akan dipinjam pengguna dengan batas waktu peminjaman 1 (satu) minggu maksimal 2 (dua) buku dan tidak boleh judul yang sama.
4. Jam Kerja :
Senin s.d Jumat : 09.00 s.d 14.00 wita
Istirahat : 12.00 s.d 13.00 wib
5. Koleksi Bahan Pustaka :
1. Buku ajar dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi
2. Buku umum
3. Buku Keagamaan
4. Majalah, karya ilmiah, Koran
Bahan pustaka, diperoleh dari pemerintah, swadaya masyarakat, hibah, yang dikelola secara profesional.
6. Fasilitas :
1. Ruang buku dan tata letak petunjuk sesuai koleksi buku
2. Ruang baca
3. Ruang Tata usaha
Prasarana, diperoleh dari pemerintah, pengguna, donatur tetap.
7. Keanggotaan
1. Para pelajar
2. Umum
Setiap pengguna dibuatkan kartu anggota, dan dikenakan biaya keanggotaan
Dibebani sanksi denda atas keterlambatan pengembalian bahan pustaka atas kelalaian sengaja merusak, menghilangkan fisik bahan pustaka.

8. Pengolahan Bahan :
1. Penyusunan koleksi bahan berdasarkan nomor registrasi dan nomor panggil
2. Berdasarkan abjad judul
3. Berdasarkan pengarang
9. Perawatan :
Kondisi bahan pustaka tetap utuh dan baik, semua pengguna menjaga dengan baik sebagai barang milik sendiri, secara kontinu dilakukan perbaikan dan kebersihan, biaya operasional diperoleh dari pemerintah, anggota.
10. Prosedur peminjaman :
1. Menunjukkan kartu anggota yang berlaku.
2. Mengisi formulir peminjaman.
3. Buku yang sedang dipinjam tidak boleh dipindah tangankan.
Sebagai pengguna perpustakaan, dikenakan biaya kartu anggota, denda keterlambatan pengembalian bahan pustaka.
11. Tata tertib dan sanksi :
1. Setiap pengguna perpustakaan harus mengisi buku tamu
2. Tidak merusak, menyobek halaman
3. Tidak boleh mencoret-coret bahan pustaka
4. Menjaga keamanan, tetertiban
5. Tidak diperkenankan meminjamkan kartu anggota kepada oran lain
6. Tidak boleh merusak kode bahan pustaka.
12. Sanksi :
1. Keterlambatan pengembalian bahan pustaka dikenakan denda Rp. 500/hari;
2. Menghilangkan buku berkewajiban mengganti buku yang sama. 
H. PENUTUP
Demikian proposal usulan Pengadaan Taman Baca Masyarakat di desa Binaus ini kami sampaikan kepada Sub Bidang Pendidikan Kemasyarakatan atau Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Besar harapan kami bahwa usulan apa yang kami usulkan ini akan memperoleh respons positif dari pemerintah, sehingga terciptanya kerja sama antar pemerintah dan masyarakat dalam upaya pencaian masyrakat pedesaan yang gemar membaca, cerdas, kritis dan mandiri yang merupakan kunci kesejahteraan. Perjuangan masih panjang, dan tidak semudah membalik telapak tangan. Perpustakaan memang layak dan perlu, yang tak terpisahkan dari masyarakat. Serta meningkatkan SDM. Adanya otonomi daerah akan berpengaruh pembiayaan, terhadap pembinaan, pengembangan. Karena TBM merupakan wujud perpustakaan masyarakat, maka salah satu faktor yang signifikan dalam meningkatkan SDM ditentukan oleh keberadaan dan pemanfaatan perpustakaan sebagai layanan informasi mayarakat menuju pendidikan seumur hidup (long live education) yang diselenggarakan secara terprogram dan berkelanjutan, terkhususnya bagi masyarakat di wilayah Desa Purwojatim Kecamatan Purwojati-Banyumas. Teriring ucapan terima kasih serta salam “Muda Bangun Desa”. 





Mengetahui



Mahasiswa KBPM
Desa Purwojati



Relawan Muda Bangun Desa



James Faot
Ketua Edison Sanam, A.Md
Ketua



Menyetujui




H. Rusin Subagyo
Kepala Desa Purwojati








KEGIATAN BELAJARAR DAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT (KBPM)
IAINU KEBUMEN
KELOMPOK MAHASISWA DESA PURWOJATI
Secteretariat: Kantor Desa Purwojati Kec. Purwojati Banyumas 

Binaus, 28 Agustus 2009
Nomor : Istimewa
Lampiran : 1 Jilid Proposal
Perihal : Permohonan Bantuan Pengadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) 

Kepada 
Yth. Kadis Sub Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) TTS
Di 
Tempat

Salam Sejahtera,
Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Capital) merupakan kunci dari pembanguan. Banyak kali, pembangunan fisik dalam rangka membangun kesejateraan masyarakat gagal atau kurang berhasil karena disebabkan oleh ketidaktersediaan SDM masyarakat. Demikian, maka penguatan kapasitas SDM masyarakat harus dilihat sebagai investasi paling strategis dan potensial yang pada akhirnya bisa menjadi landasan pembangunan, pengelolaan dan pemanfaatan segala ketersediaan sumber daya alam atau fisik yang adalah dalam masyarakat. Dalam konteks membangun SDM masyarakat pedesaan, pemerintah harus sudah mulai dengan kesungguhan untuk memberikan solusi tepat agar masyarakat dapat mencari ilmu di luar pendidikan formal. Dan salah satunya adalah Perpustakaan.
Didasarkan pada landasan pikir di atas, maka kami Mahasiswa KBPM-UKAW Kupang, Angkatan 2009/2010, yang di tugaskan untuk belajar dan mendampingi masyarakat di desa Purwojati, kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, berupaya untuk melakukan kerja sama dengan pihak Pemerintah Desa serta Relawan Muda Bangun Desa melalui program “Pengadaan Taman Baca Masyarakat” yang juga merupakan agenda program Sub Bidang Pendidikan Luar Sekolah P dan K Banyumas. Demikian surat ini kami sampaikan dan atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih. 



Mengetahui

Mahasiswa KBPM
Desa Purwojati


Raras Wuri M
Ketua 
Relawan Muda Bangun Desa



Edison Sanam, A.Md
Ketua 





Menyetujui
Kepala desa Binaus


Nahor Tasekeb

Rabu, 28 Januari 2015

Proposal Pendirian TBM

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa serta dalam usaha melestarikan program Pendidikan Non Formal salah satunya adalah melalui TBM  (Taman Bacaan Masyarakat ). Melalui pembudayaan baca, masyarakat akan meningkat pengetahuannya, meningkat kesehatannya, meningkat tatanan ekonominya yang mana peningkatan tersebut akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Dengan membaca pula seseorang akan terbentuk kepribadiannya menjadi lebih baik. Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial. Semua ini telah ditatanya dalam caranya yang khas, di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dari tingkah lakunya dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya (Heuken,1989).
Mendidik kepribadian dapat dilakukan melalui buku. Dengan membaca buku seseorang akan memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas, dari situ ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga akan terbentuk pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dalam hal ini, membaca dapat diartikan “membaca untuk hidup”, artinya membaca agar kita bisa hidup lebih baik, lebih arif, lebih mengerti ‘tabiat’ dunia (Widarso,1994).
Minat dan kebutuhan masyarakat untuk gemar membaca memerlukan perhatian serius dari pemerintah, dari aktor pendidikan, dan dari pihak yang peduli pentingnya membaca. Salah satu daerah yang memerlukan perhatian khusus dalam bidang pelayanan baca ini adalah kota Wonosari, Gunung Kidul. Jumlah manusia usia produktif yang melimpah menuntut adanya sebuah akses pengetahuan/informasi yang relevan agar keunggulan dalam segi kuantitas masyarakat tersebut di imbangi dengan pembentukan kualitas pribadi  yang memadai. Adanya Taman Bacaan Masyarakat di Gunung Kidul tepatnya di desa Gatak adalah memberikan layanan baca yang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang dominan dengan masyarakat dari ekonomi menengah kebawah, daerah buruh tani, buruh ternak, dan mereka adalah para aksarawan baru yang rawan untuk buta aksara kembali. Walaupun telah ada TBM serta perpustakaan di Gunung Kidul  namun TBM dan perpustakaan tersebut masih bersifat sentralistik atau memusat yang dalam artian masyarakat kurang mampu mengakses bahan bacaan karena biasanya TBM atau perpustakaan tersebut berdekatan dengan lembaga pemerintah dengan berbagai macam aturan formal baca dan kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang cenderung kurang memotivasi minat baca masyarkat.
Melihat fenomena diatas, kami, mahasiswa Universitas Negeri Yogayakarta dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah memiliki sebuah harapan dalam rangka memberikan fasilitas baca guna meningkatkan  kemajuan masyarakat secara umum. Melalui kegiatan KKN-PPL yang berpusat di Unit Pelaksana Teknis Sanggar Kegiatan Belajar ( UPT SKB) Gunung Kidul akhirnya terwujudlah kesempatan itu. Melihat berbagai pihak yang begitu peduli terhadap kemajuan kualitas masyarakat khususnya bidang pendidikan, serta kesempatan yang diberikan kepada kami, maka telah kami susun sebuah rancangan program pengadaan Taman Bacaan Masyarakat berbasis lingkungan, sebuah program yang harapannya mampu meningkatkan sumber daya manusia. Program-program tersebut secara terperinci akan dijelaskan pada Sub Bab selanjutnya.
Adanya keterbatasan dana dari pihak UNY sendiri yang mendorong kami untuk mengadakan mitra dengan  lembaga atau unit kerja, agar program tersebut mampu dilaksanakan secara maksimal dan tepat sasaran sehingga memberikan manfaat  yang maksimal pula.
B.  Tujuan
1)  Tujuan Umum
a.  Mengadakan Program KKN-PPL yang bermanfaat bagi masyarkat luas
b.  Membantu dalam rangka pemerataan pendidikan melalui layanan baca.
2)  Tujuan Khusus
a.    Mengadakan  TBM yang mempunyai koleksi buku yang lengkap dan sesuai
kebutuhan warga masyarakat.
b.    Mensosialisasikan  TBM pada masyarakat agar  dapat menggerakkan, mendorong masyarakat melalui lomba minat  baca maupun promosi dan sosialisasi minat baca.
c.    Mengadakan TBM dengan manajemen yang sederhana, sehingga dapat memunculkan partisipasi masyarakat.
3)     Hasil yang akan dicapai
Maka melalui pengadaan  TBM berbasis Lingkungan ingin mencapai hasil sebagai berikut:
a.    Terlayani kebutuhan minat baca lulusan program SD, SMP,SMA  yang berjumlah + 140 warga.
b.    Terlayani kebutuhan minat baca bagi 414 warga yang ada di Kecamatan
yang bebas buta aksara, serta 237 orang dari segala lapisan.
c.    Terlayani kebutuhan bahan bacaan bagi orang tua wali murid PAUD/TK/sederajat. Karena letak TBM kami adalah di lingkungan penyelenggaraan PAUD, dimana orang tua PAUD dapat mengisi waktu luangnya dengan membaca.
d.    Terlayani kebutuhan bahan bacaan bagi ibu PKK, perkumpulan tani dan Yandu.
e.    Untuk membangkitkan minat baca masyarakat di lingkungan melalui sosialisasi ke  acara-acara/kegiatan yang ada di masyarakat dan memberikan pelayanan baca.
f.    Adanya partisipasi masyarakat dalam mengelola TBM berbasis lingkungan, sehingga keberadaan TBM terus berkelanjutan.
BAB II
RANCANGAN PENYELENGGARAAN PROGRAM
A.    Rancangan Model Pelaksanaan Taman Baca Masyarakat (TBM) Berbasis Lingkungan
Pengadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) berbasis lingkungan dibangun melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Tahap Persiapan
a.    Identifikasi kebutuhan atau need-assesment. Untuk membuat suatu program layanan, sudah menjadi ketentuan mutlak bahwa identifikasi kebutuhan perlu dilakukan. Dengan adanya need-assesment, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) bisa memperoleh gambaran tentang kondisi masyarakat sekitar serta kebutuhan masyarakat sekitar. Hal ini tentu akan menentukan target-target perkumpulan atau kegiatan serta pengadaan buku bacaan yang sesuai serta dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Data tentang tingkat kebutuhan bisa diperoleh dari hasil pengamatan atau observasi, wawancara langsung dengan  masyarakat sekitar, serta dokumen-dokumen lain yang tersedia.
b.    Pengadaan bahan bacaan. Bahan bacaan yang digunakan dalam Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berbasis lingkungan ini disesuaikan dengan  kebutuhan serta minat masyarakat. Seperti misalnya untuk kegiatan posyandu atau PAUD, dipilih bacaan mengenai pemilihan gizi yang baik untuk anak, bacaan mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan, atau tentang penyusunan menu sehat bagi anak yang sekiranya mendukung minat serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Untuk ibu-ibu rumah tangga usia produktif, disediakan jenis buku ketrampilan memasak, menjahit atau sejenisnya. Pengadaan buku buku bacaan  melalui pengumpulan buku bekas yang telah melalui tahap filterisasi  serta bantuan donatur/ pihak pihak terkait.
c.    Recruitment atau pemilihan calon pengurus TBM berbasis lingkungan. Pemilihan pengurus TBM ini adalah tahapan yang sangat penting, mengingat kepengurusan TBM ini diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat (setelah mendapat pelatihan), yang dimaksudkan agar TBM tetap hidup walaupun usai masa KKN-PPL di Gunung Kidul.  Pengurus dipilih antara 2-3 orang yang tugasnya meliputi : 1. pengadaan sarana prasarana; 2.pengelolaan buku; 3.pelayanan baca. Pemilihan didasarkan pada karakteristik-karakteristik, antara lain; mudah menjalin hubungan teman, memiliki minat untuk membantu, dapat diterima orang lain, toleran terhadap perbedaan, secara sukarela bersedia mengelola TBM lingkungan. Saat melakukan pemilihan pengurus TBM akan melibatkan warga sekitar agar didapat pengurus secara objektif. Pendekatan yang dilaksanakan secara formal justru akan menimbulkan keterpaksaan di diri para anggota perkumpulan.
2.    Pelatihan calon pengurus baca. Untuk dapat menjalankan perannya sebagai pengurus baca, serangkaian pelatihan perlu dilakukan. Masyarakat yang terpilih sebagai sukarelawan, dikumpulkan dan dilakukan pertemuan. Tujuan utama pelatihan ini  adalah untuk menyeragamkan pola pikir para pengurus TBM mengenai pentingnya budaya baca dilestarikan dalam masyarakat serta pelatihan dalam pengelolaan bacaan.
Dalam praktiknya, interaksi pengurus TBM dan warga baca akan lebih bersifat non formal, akrab dan spontan karena telah terjalin hubungan saling mengenal. Hal yang perlu terus dilakukan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah melakukan pendampingan terhadap pengurus baca. Pertemuan secara periodik (misalnya seminggu sekali) dapat dilakukan untuk bertukar pengalaman serta pengajuan pengadaan buku bacaan yang diminati dan dibutuhkan masyarakat di masing-masing kegiatan masyarakat. Dalam pertemuan ini akan memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman kepada sesama pengurus TBM dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami di masyarakat serta menyusun strategi-strategi untuk terus meningkatkan budaya baca masyarakat.
3.    Evaluasi dan rencana tindak lanjut. Evaluasi meliputi evaluasi proses dan hasil. Evaluasi dilakukan dari tiap tahap pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berbasis lingkungan (mulai dari tahap persiapan, pelatihan calon pengurus baca, serta pelaksanaan dan pengorganisasian).
4.    Tujuan akhir atau goal.
Tujuan akhir atau goal dari pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berbasis lingkungan adalah masyarakat mampu meningkatkan kecintaan terhadap buku serta meningkatkan budaya baca masyarakat. Untuk menuju termina goal, tentunya ada tahap progress yang akan dilalui masyarakat setempat.
BAB III
KEGIATAN PENYELENGGARAAN TBM BERBASIS LINGKUNGAN

1)    Gambaran Umum Kegiatan
a.    Taman Bacaan ini dibentuk di Rumah Kepala Dukuh, dengan pertimbangan sebagai berikut :
1.    Dirumah tersebut, digunakan masyarkat menyelenggarakan berbagai macam kegiatan, diantaranya adalah tempat pembelajaran PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini), posyandu, dan PKK. Harapannya disini TBM akan senantiasa mendapatkan pelanggan baca tetap dan membaca menjadi salah satu kegiatan/budaya masyarakat dalam melakoni berbagai kegiatan.
2.    Letak rumah yang strategis karena dapat dijangkau warga sekitar.
3.    Ukuran rumah yang luas dan sudah memenuhi syarat rumah bersih dan sehat
4.    Kesediaan dan kepedulian kepala dukuh untuk menjadi penanggungjawab penyelenggaraan TBM.
b.    TBM akan senantiasa mengadakan berbagai kegiatan yang memotivasi serta menarik minat baca masyarakat. Mengadakan lomba baca dan keterampilan terkait dengan bahan bacaan yang ada di TBM adalah cara mengembangkan minat baca masyarakat
c.    Pelayanan dan pengelolaan baca yang fleksibel, praktis namun menarik menjadi salah satu upaya menarik minat baca masyarkat . Salah satu metode pengemasan bahan baca buku yang akan kami gunakan yaitu model “ Tigo Werno” yaitu pengemasan 3 macam buku ( bacaan untuk ibu, bapak, anak ) dalam satu buah paket, yang dimaksudkan agar setiap pembaca ingin meminjam buku bacaan untuk dibawa pulang, harapannya dengan membawa satu paket buku tersebut, anak serta suami/istri pun dapat diajak untuk membaca buku yang tentu relevan dengan mereka, kemudian diharapkan ada sebuah diskusi keluarga untuk memecahkan masalah bersama yang tentunya buku yang telah dibaca mampu memberi reverensi pemecahan masalah.
2)    Struktur Kepengurusan
Terlampir
3)    Jadwal Kegiatan
Jadwal pelayanan minat baca sebagai berikut :
NO    Hari    Pagi
08.00 – 13.00    Sore
14.00 – 17.00    Keliling
18.30 – 21.00
1    Senin    V    V
2    Selasa    V    V
3    Rabu    V    V    V
4    Kamis    V    V
5    Jumat    V    V    V
6    Sabtu    V    V    V
7    Minggu    V    V
4)    Tenaga pengurus
No    Nama    Pendidikan    Jabatan dalam TBM    Ket
1 Suprianto            SMA Pengelola buku
2 Tri Apriyani        SMA    Sarana Prasarana
3 ANdika Basiti          SMA  Pustakawan
4 Ani Sri Purwati S1  Pustakawan
5)    Mitra kerja
No    Nama    Bentuk Kerja sama    Keteranga
Perpustakaan umum dan arsip daerah Gunung Kidul
TBM UPT SKB Gunung Kidul
Penerbit dan Toko Buku
§    Bimbingan
§    Peminjaman buku
§    Pelatihan
§    Bimbingan  teknis dan sosialisasi
§    Dana dan pengadaan Buku
6)    Manajemen Mutu Penyelenggaraan
Rencana manajemen mutu penyelenggaraan dilaksanakan melalui :
a.    Pembinaan kepada para petugas baca
b.    Pengendalian pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal yang disepakati
c.    Membuka / menyediakan kotak kritik dan saran
d.    Pengendalian pemanfaatan dana secara tepat guna, tepat sasaran dan tepat waktu
e.    Pelayanan yang luwes dan fleksibel
BAB VI
PENUTUP
Dengan ajuan Program Pendirian Taman Bacaan Masyarakat Berbasis Lingkungan  ini akan sangat membantu kami untuk mencapai visi dan misi pelayanan pendidikan untuk masyarakat. Semoga Proposal ini dapat menjadi satu petunjuk bagi tim untuk dapat mengabulkan ajuan kami.
Demikian ajuan Proposal kami sampaian, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Purwojati,
Penyusun